Pages

Ads 468x60px

Text Widget

Sabtu, 18 Februari 2017

Negeri diatas air, pengalaman pertama jadi umar bakri di tanah seberang


Tidak ada terbersitpun kalau saya bakal menginjakkan kaki di daerah yang merupakan tumpukan humus diatas air (red=gambut). Awal cerita, pada tanggal 20 Februari 2013 saya sampai disebuah sekolah diantara hamparan permadani hijau, yach tanah yang begitu subur.  Rasa lelah setelah menempuh perjalanan yang begitu jauh, hamper 3 jam dari pusat kota kabupaten dengan jalan yang lumayan menyita kosentrasi tinggi. Kami datang bersebelas orang setelah kulonuwun di rumah kepala desa, dilanjutkan kesekolah yang dituju.  Pengalaman pertama yang kami alami adalah begitu kami mengambil air wudlu ternyata airnya berwarna coklat seperti susu coklat namun begitu lidah menyentuhnya serasa garam satu sendok ada di mulut, pantaslah daerah ini dinamakan Banyuasin.
Setelah kami diterima oleh sekolah maka agenda kami yang pertama adalah mencari tempat kos atau kontrakan, setelah saya berputar-putar kesana kemari mencari tempat kos ternyata tidak ada tempat dapat menjadi tempat kos, maka saya menjadi primus alias pria mushola. Pada hari kedua dan ketiga saya bermalam disekolah dan selama beberapa malam menumpang nginap diteman guru. Sepulang ngajar saya menemui bapak ahyat beliau bersedia membangunkan saya bedeng untuk saya kontrak, selama sepuluh hari sambil menunggu bedeng alhamdulillah saya diberi tumpangan untuk menginap ditempat bapak Iman Slamet beliau adalah guru SD yang dulu ikut program transmigrasi, setelah bedeng jadi rencana saya mau menempatinya tak taunya datanglah teman guru dari jawa timur dia datang bersama ibunya dan anak perempuannya yang masih kecil, akhirya urung saya menempati bedeng yang baru selesai, dan harus menunggu dibangunkan bedeng lagi. Akhirnya saya masih harus tinggal numpang di tempat pak Slamet yang masih mengijinkan tinggal disana, sebelumnya saya sudah minta pamit untuk pindah ke bedeng, semoga amal baiknya dibalas yang setimpal oleh Allah aamiin.
Hal yang menarik dari tempat ini adalah sepanjang mata memandang adalah hamparan sawah yang luas berhektar-hektar. Kemudian masyarakatnya yang heterogen karena masing-masing RT biasanya merupakan warga transmigrasi yang berasal dari daerah yang sama. Jadi disitu ada kampong Tegal, ada kampong Cilacap, kampong Ngawi, kampong Sumedang, Blitar, Bali, melayu, Bugis dan masih banyak lainnya.  Jadi serasa ada Indonesia mini dikawasan ini, namun anehnya bahasa sehari-hari memakai bahasa jawa jadi selama saya tinggal disitu serasa masih di jawa. Hal yang menarik lainnya yaitu cara menanam padi disini di kampong halamanku sudah lama diterapkan tanam padi jejer legowo, disini masih ditanam tidak disemai terlebih dahulu tetapi ditaburkan kesawah dan tumbuh sampai panen.  Kemudian fenomena yang menakjubkan yang pertama kulihat disitu adalah ketika menjelang sore pekarangan rumah berubah menjadi danau, karena air pasang dari saluran/sungai yang sengaja dibuat untuk mengatasi air pasang. Masih banyak dijumpai satwa yang dijawa sudah sulit dijumpai, biawak sebesar buaya bahkan disungai-sungai tertentu masih banyak buayanya.  Jika saya pingin makan lauk ikan maka hanya dengan modal anak katak tiga ekor bisa membawa pulang ikan yang bisa untuk lauk selama tiga hari, hem surge buat para hobi mincing.

Budaya masyarakat didaerah tersebut beraneka warna karena penduduk transmigrasi masih memelihara budaya dari daerah mereka berasal.  Apabila kita menjumpai banyak pura diperumahan penduduk sudah dipastikan mereka berasal dari Bali, kalau di dalam rumah ada perlengkapan kuda lumping kemungkinan pasti berasal dari daerah jawa.  Kendala para siswa didaerah itu adalah inprastruktur yang masih kurang, jalanan yang apabila hujan tiba sukar dilalui sehingga sering siswa sampai disekolah baju seragamnya penuh lumpur, serta jarak sekolah kerumah siswa yang terlalu jauh.  Kemudian tingkat pendidikan orang tua murid yang masih rendah sehingga kepedulian terhadap anaknya untuk sekolah sangat kurang.  Anak lebih baik membantu kerja orang tua di sawah daripada sekolah.  Problem siswa yang lain adalah tingkat berhitung mereka yang masih sangat lemah jadi untuk pelajaran produktif yang ada hitungannya harus mengulang mengajari matematika padahal itu matematika dasar, perkalian, pembagian, dan pecahan dasar.  Kasus berhenti sekolah kebanyakan disebabkan oleh factor ekonomi padahal sekolah sudah digratiskan, karena transportasi disana sehari anak-anak ada yang menghabiskan uang Rp. 25.000 untuk biaya transportasi. Sebagian lagi karena masalah  broken home.
Kelebihan siswa di daerah trans adalah semangat kerja mereka yang tinggi, serta kepatuhan terhadap guru lumayan bagus.  Kenangan belajar bersama mereka akan selalu teringat, ktika anak praktik pemijahan ikan mereka bermalam disekolah karena tempat kost saya dekat sekolah sering kita bakar-bakar ikan bareng setelah kami lomba mancing. Kemudian ketika beranjang sana kesekolah lain dengan naik ketek/perahu orang sana menyebutnya bus air, yach karena transpotasi airlah yang utama  disana untuk kedaerah lain disana. Karena daerah perairan daratan dikelilingi banyak sungai.
Namun sayang tidak lama saya menjalankan tugas dinegeri tanah gambut ini karena saya dipindahtugaskan ketempat yang baru, dipusat ibu kota  kabupaten.  Itulah sekelumit ceritaku pertama kali bertugas mengabdi demi anak bangsa didaerah eks transmigrasi, lain waktu disambung lagi….  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Salam

Banner Header

iklan monggo

Banner Header

Anda tertarik

Banner Header

Sukses

Banner Header

Iklan disini

Banner Header

Silahkan hubungi

Banner Header

Berjamaah

Banner Header

Iklan jugo

Banner Header

085368986578

Banner Header
 
Blogger Templates