Pages

Ads 468x60px

Text Widget

Sabtu, 18 Februari 2017

Manajemen Pemeliharaan Ayam Layer


Ayam petelur merupakan jenis ayam ras yang sangat efisien dalam menghasilkan telur. Bangsa ayam yang termasuk kelas ini dapat dikenal karena ayam itu mempunyai ukuran badan yang kecil dan aktif, mudah terkejut, cepat dewasa dan tidak memiliki sifat mengeram, kebanyakan atau hampir semuanya mempunyai kaki yang bersih (tidak berbulu) dan cuping telinganya berwarna putih (Siregar dan Sabrani,1986).
Menurut Rasyaf (1997), ayam petelur ada dua tipe yaitu tipe petelur ringan yang disebut juga dengan ayam petelur putih. Ayam ini mempunyai badan yang ramping warna bulu putih bersih dan berjengger merah, produksi telurnya 260 butir per tahun, serta sensitif terhadap cuaca panas dan keributan. Tipe kedua adalah tipe medium, memiliki ukuran tubuh yang tidak kurus tetapi juga tidak gemuk dan produksi telur 250 butir dan pada saat afkir menghasilkan daging yang cukup banyak. 

1.            Ayam Petelur Periode Starter
Periode starter adalah anak ayam yang berumur 0 sampai 6 atau 7 minggu, dimana tingkat pertumbuhannya relatif cepat dan merupakan masa yang menentukan bagi kehidupan selanjutnya (Rasyaf, 1997). Pertumbuhan periode starter dipengaruhi seleksi ketat yang meliputi keaktifan gerak, nafsu makan baik, pertumbuhan cepat, bobot badan seragam, tingkat kematian rendah, kaki kuat dan mata cerah (Siregar dan Sabrani, 1986). 

1.1.        Kandang Anak Ayam Umur 0 hari – 6 minggu
Agar anak ayam tumbuh sehat, mereka harus disediakan ruangan yang luas untuk bermain, makan, dan minum. Anak ayam yang masih kecil tidak akan berjalan lebih dari 3 meter untuk mencari pakan dan air. Anak ayam membutuhkan tempat yang cukup di sekitar pakan sehingga semuanya bisa makan secara bersamaan tanpa berdesakan. Ukuran kandang untuk anak ayam umur ini adalah satu m2 untuk 10 ekor anak ayam. Sebagai alas kandang dapat digunakan kulit gabah setebal 10–15 cm. Kandang diberi lampu 60 Watt. Lampu ini akan memberikan panas yang cukup bagi anak ayam. Apabila lampu tidak cukup memberikan panas, maka anak ayam akan mendekati sumber panas  dan apabila terlalu panas, anak ayam akan menjauhi sumber panas, sedang apabila lampu cukup memberikan panas, maka anak ayam akan tersebar merata di dalam kandang.
 Kandang yang baik bagi anak ayam adalah apabila suhu di sisi luar sebelah bawah kandang berkisar antara 30 sampai 32ºC. Ventilasi kandang merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan tinggi rendahnya suhu di dalam kandang. Beberapa ventilasi sebaiknya disediakan penutupnya. Pada musim dingin, semua ventilasi yang menghadap pada arah angin masuk terutama yang dekat lantai hendaknya ditutup, sedangkan pada musim panas, bukalah ventilasi selebar-lebarnya agar udara segar masuk sebanyak-banyaknya. Penggunaan kipas harus dihindari karena dapat menyebabkan ayam menjadi sakit. Disamping stres, ayam yang berada dalam tempat yang terlalu panas karena sistem ventilasi yang buruk, akan tidak mau makan atau minum secara normal, akibatnya ayam akan cacat dan bagi ayam petelur tidak akan tumbuh dengan baik atau kerdil.
Kandang harus aman dari gangguan kucing, tikus, serta binatang pemangsa lainnya. Atap jangan sampai bocor. Sebelum anak ayam dimasukkan, kandang dan semua peralatan telah dibersihkan dandisemprot anti hama. Pekerjaan tersebut sudah harus selesai beberapa hari menjelang anak ayam dimasukkan kandang sehingga kandang benar-benar telah kering pada saat anak ayam dimasukkan.

2.            Ayam Petelur Periode Grower
Periode grower adalah ayam yang berumur 7 sampai 13 minggu, pada fase ini kontrol pertumbuhan dan keseragaman perlu dilakukan, hal ini berhubungan dengan sistem reproduksi dan produksi ayam tersebut. Periode grower secara fisik tidak mengalami perubahan yang berarti, perubahan hanya dari ukuran tubuhnya yang semakin bertambah dan bulu yang semakin lengkap serta kelamin sekunder yang mulai nampak (Rasyaf, 1997).
Pada periode grower sistem produksi ayam mulai tumbuh dan sistem hormon reproduksi mulai berkembang dengan baik, berkaitan dengan berkembangnya sistem reproduksi ada faktor yang harus diperhatikan yaitu faktor ransum dan cahaya, karena kegagalan dalam memperhatikan keduanya akan berakibat fatal terhadap produksi dimasa bertelur kelak (Siregar dan Sabrani, 1986).
Fase grower antara umur 14 – 20 minggu disebut fase developer (pengembangan). Pemeliharaan fase grower, fase produksi dan program peremajaan dengan melalui force molting. Fase developer merupakan fase pertumbuhan yang sudah menurun, sedangkan konsumsi ransum terus bertambah. Sehingga jika ransum yang diberikan adlibitum maka akan terjadi kegemukan dan pada saat akan berproduksi telur pertama yang dihasilkan kecil-kecil sehingga penggunaan energi tidak efisien.
Pengelolaan Fase Grower  Fase grower pada ayam petelur, terbagi ke dalam dua kelompok umur yaitu 6 – 14 minggu dan umur 14 – 20 minggu sering disebut dengan fase developer. Ada beberapa cara pemeliharaan untuk mengurangi terjadinya stress akibat pemindahan kandang, yaitu :  
1.   Brooding House
Kandang yang digunakan untuk pemeliharaan ayam (DOC), dilanjutkan pemeliharaan sampai mencapai umur 6 – 14 minggu. Kandang yang digunakan kandang sistem litter. Dipindahakan dari kandang grower sekitar 14 minggu.
2.  Grow - Lay – House
Kandang yang digunakan pada fase pertumbuhan, juga digunakan sampai akhir bertelur yaitu sejak umur 6 minggu.
3.   Brood – Grow – Lay – House 
Ayam dipelihara dalam kandang yang sama, sejak ayam dipelihara umur satu hari sampai akhir bertelur.  Kepadatan kandang dapat mempengaruhi pertumbuhan yang baik. Bila kandang terlalu padat, umumnya menyebabkan pertumbuhan yang lambat, kanibalisme, efisiensi penggunaan ransum rendah. Luas tempat pakan, tempat air minum, luas lantai perelor dipengaruhi oleh tipe lantai kandang, besar badan ayam, temperatur lingkungan, ventilasi kandang dan perlengkapan kandang.

2.1.    Manfaat Kandang Batteray Grower Untuk Ayam Petelur
Kandang batteray grower dimaksud adalah kandang berbentuk seperti rangkaian batteray dipergunakan ayam petelur usia grower (remaja) umur 1,5 bulan ~ 4,0 bulan. Bentuk kandang batteray grower mirip seperti batteray masa bertelur hanya bentuknya persegi panjang (misal : Kedepan 40 Cm x Tinggi 40 Cm x Panjang 50 / 60 Cm). Biasanya 1 (satu) set rangkaian batteray grower dari kawat ada 2 kotak @ 60 cm (panjang 120 Cm) dan kalau dari bambu ada 4 kotak @ 50 Cm (panjang 2 m). Bentuk persegi artinya tidak miring kedepan seperti batteray masa bertelur dan juga tidak ada tempat telur di depan.
Kapasitas batteray grower biasanya disesuaikan dengan umur ayam petelur. Pada umur 1.5 bln - 2.0 bln (isi : 8e / kotak), umur 2.0 - 3.0 bln (isi : 6-7e / kotak) dan pada umur 3.0 - 4.0 bln (isi : 5e / kotak). Dengan isi yang terukur tersebut maka :
1.         Kasus kanibalisme saling mematuk pada ayam menjadi tidak ada sehingga deflesi kematian ayam jauh berkurang dibanding pakai sistem litter atau slatge. 
2.         Ayam akan mendapatkan kesempatan dan jatah pakan yang sama, sehingga pertumbuhan berat badan merata. Dengan penggunaan batteray grower maka Uniformity body weight akan bisa mencapai 90% bahkan lebih. 
3.         Dengan batteray grower maka standart berat badan yang dikehendaki akan masuk secara bersamaan.
4.         Ayam mudah dikontrol dan dilakukan perlakuan dalam program vaksinasi dan pengobatan.
Batteray grower ini sangat bermanfaat untuk kesuksesan beternak ayam kampung petelur arab atau ayam petelur ras / layer. Batteray grower bisa meningkatkan performa ayam petelur masa grower yang pada akhirnya meningkatkan produktifitas telur pada masa layer. Hasil terpenting dari penggunaan batteray grower adalah :
a.      Berat badan awal (formely body weight) akan masuk secara bersamaan. Berat badan awal ini menujukan fase dewasa kelamin sudah masuk. Artinya semua jenis hewan dewasa kelamin ditentukan oleh berat badan awal, maksudnya meski umur belum dewasa tetapi berat badan awal sudah masuk maka hewan sudah dewasa kelamin dan dengan sendirinya sudah bisa dikawinkan atau bertelur dengan sendirinya. Kalau awal masa bertelur bersamaan maka kita bsa memprogram pada ayam kampung petelur arab umur 5 bulan sudah 5% produksi telur.
b.      Keseragaman berat badan (uniformity body weight) bisa mencapai 90% bahkan lebih. Keseragaman ini menentukan puncak produksi telur. Dimaksudkan dengan keseragaman maka ayam akan bertelur secara bersamaan (tidak : ada yang sudah bertelur, ada yang baru mulai telur, ada yang masih belum bertelur). Kalau berat badan seragam maka awal mulai bertelur akan bersamaan dan akan mencapai puncak produksi telur secara bersamaan pula. Dengan bersamaan puncak produksi ayam arab bisa mencapai 82~83%.
Banyak kasus produksi puncak hanya bisa 70~75% peternak menyalahkan bibit DOC atau pullet kurang bagus kualitasnya, padahal kesalahan terjadi pada keseragaman berat badan (kelemahan sistem litter / slatge). Bahkan ada peternak yang pelihara ayam mulai umur 0 hari sampai afkir menggunakan sistem litter maka yang terjadi ayam pasti tidak akan bisa produksi baik dan hancur semua karena ayam saling berkelai / tarung kanimal banyak mati.

2.2.    Ransum untuk Grower
Umumnya ransum grower digunakan protein ransum 15 % dan energi 2900 kkal/kg. Bahan-bahan pakan untuk menyusun ransum ayam fase grower sama seperti fase produksi untuk anak ayam. Perbedaannya pada penyusunan ransumnya karena kebutuhannya tidak sama. Menyusun ransum yang perlu dipertimbangkan yaitu bahan pakan yang digunakan harus berkualitas baik. Restricted Feeding (Pembatasan Pemberian Ransum).
 Ayam tipe medium mempunyai sifat sebagai petelur juga sebagai pedaging yang baik. Penimbunan lemak ini umumnya lebih banyak terjadi pada masa developer yaitu pada saat pertumbuhan sudah menurun dan pertama-tama akan ditimbun di alat-alat reproduksi.
Pengaruh yang kurang menguntungkan karena : 
ü  Total produksi telur per tahun menurun, pada saat fase produksi
ü  Angka kematian lebih tinggi
ü  Penggunaan energi tidak efisien pada saat memasuki tahap produksi
ü  Cepat mencapai dewasa kelamin (masak dini).
Untuk mengatasi kegemukan dilakukan pembatasan jumlah ransum yang diberikan pada saat menjelang bertelur, dengan tehnik pelaksanaan :
ü  Mengurangi kadar protein/ asam amino
ü  Mengurangi jumlah energi yang diberikan
ü  Membatasi waktu pemberian ransum
ü  Membatasi jumlah air yang diberikan  
2.3.    Pemotongan Paruh (Debeaking)
Pemotongan paruh pada pada ayam tipe leghorn dan jenis ayam petelur, umumnya dipotong pada umur 10 – 14 minggu. Paruh bagian atas dipotong lebih pendek dari yang bawah atau dipotong 1/3 – 2/3 bagian atau 0,45 – 0,63 di depan nostril (depan lubang hidung).
Hal-hal yang perlu diperhatikan bila kita akan melakukan pemotongan paruh :
ü  Tidak melaksanakan pemotongan paruh selama periode vaksinasi, karena akan menambah stress dan ayam akan mudah terserang penyakit.
ü  Memberi ransum segera setelah paruh dipotong
ü  Menambah jumlah makanan/minuman setelah paruh dipotong
ü  Memotong paruh sebaiknya pada saat suhu dingin (sore hari)
ü  Tidak memotong paruh pada saat menjelang bertelur, karena akan menyebabkan lambatnya bertelur.
Agar tidak terjadi stress yang terlalu berat, hal-hal yang perlu diperhatikan :
ü  Pemindahan sebaiknya dilakukan pada malam hari.
ü  Bila terpaksa bila dilakukan pada siang hari tetapi tidak waktu hari panas.
ü  Setelah pemindahan bisa diberikan antibiotik (3 – 5) untuk mencegah blue comb.
ü  Vaksinasi harus sudah lengkap.  
2.4.    Pencegahan Penyakit
Ayam mati segera dibuang pada tempat pembuangan khusus dan yang sakit segera diobati atau dikarantina. Burung-burung liar dicegah agar tidak bisa masuk ke lingkungan kandang karena dikhawatirkan akan membawa penyakit. Untuk mencegah timbulnya penyakit unggas menular dengan melalui vaksinasi. Bila perlu diberikan vitamin dan obat-obatan.

3.            Ayam petelur periode Layer 
Ayam petelur mulai berproduksi umur 18 minggu. Produksi telur dimulai dengan produksi rendah kemudian meningkat dan puncaknya pada umur 24-26 minggu. Setelah mengalami puncak produksi, maka produksi akan turun perlahan-lahan. Ayam bisa berproduksi sampai tingkat menguntungkan sampai umur 20 bulan. Jadi mulai awal produksi pada umur 5 bulan dan berakhir pada umur 20 bulan berarti ayam hanya berproduksi efektif selama 15 bulan. Pemeliharaan masa produksi diawali pada saat ayam telah mencapai umur 18 minggu. Pada saat itu ayam sudah mencapai fase kedewasaan. Kedewasaan ayam ini ditandai dengan suatu perubahan fisik dan perilaku yang sangat mencolok. Perubahan fisik yang nyata, terutama terjadi pada penampilan jengger dan pial yang nampak lebih besar, tebal dan berwarna merah, serta tubuh yang semakin berisi diselimuti bulu yang lengkap berwarna mengkilap. Adapun perubahan perilaku yang nyata ialah ayam mulai suka berkotek dan apabila didekati tidak menghindar, akan tetapi justru mendekat kepada peternak, mereka semakin jinak.
Perubahan fisik dan perilaku semacam itu merupakan akibat atau pengaruh dari perkembangan organ reproduksi yang semakin masak. Pada saat itu ayam mulai berproduksi. Awal produksi sebanyak 5% ini dicapai pada saat ayam umur 20-21 minggu, dan selanjutnya akan mengalami peningkatan terus sampai puncak produksi dalam kurun waktu kurang lebih 2 bulan. Kemudian, sedikit demi sedikit produksi mulai menurun. Namun, produksi ini akan berlangsung lebih dari 52 minggu. Selama masa produksi, tuntutan hidup ayam berupa nutrisi, khususnya protein meningkat lebih tinggi daripada masa remaja. Tuntutan hidup ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan tubuh dan berproduksi. Jika tuntutan hidup ini tidak terpenuhi, maka ayam jenis unggul tidak akan dapat menampilkan keunggulanya. Oleh karena itu, selama masa produksi yang berlangsung minimal 52 minggu ini, peternak harus dapat memanfaatkan peluang tersebut, menyesuaikan dengan tuntutan hidup mereka, antara lain dengan memberikan ransum layer dengan kandungan nutrisi yang baik.
Untuk menjamin kesehatan dan produktivitas selama masa bertelur, ayam harus mendapat perlakuan dan pemeliharaan sebaik mungkin. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan masa produksi terutama adalah mengenai penyediaan kandang, pindah kandang, tata laksana pemberian makanan dan air minum, pengendalian penyakit dan sebagainya.

3.1.    Pengelolaan Fase Produksi
Kandang merupakan tempat lingkungan hidup ayam, adapun tujuan dari peternak menempatkan ayam dalam kandang yaitu agar :
a.    ayam terlindung dari gangguan luar (gangguan cuaca, binatang buas).
b.    pengelolaan lebih mudah
c.    diharapkan produksi lebih efisien.
Kandang untuk ayam petelur diantaranya harus memenuhi syarat sebagai berikut :
1) Bangunan kandang
a. lokasi
b. lebar kandang sebaiknya sekitar ± 8m
c. arah bangunan sebaiknya membujur dari timur ke barat.
2) Ventilasi
Ventilasi yang baik pada kedua belah sisi kandang terbuka (open side wall houses). Bila kandang kurang baik maka amoniak yang timbul akan menjadi racun bagi ayam (> 25 ppm) timbul penyakit pernapasan, produksi turun dan bagi ayam yang dipelihara dalam kandang sistem litter biasanya disertai penyakit cacing.
3) Temperatur dan Kelembaban
Temperatur kandang yang baik untuk pemeliharaan ayam petelur sekitar 21 0C kelembaban sekitar 50 – 60 %.
4) Kepadatan
Kepadatan kandang yaitu banyaknya ayam per satuan luas. Kepadatan kandang dipengaruhi oleh bangsa, besar badan ayam dan keadaan temperatur lingkungan. Tipe ringan sekitar 6 – 7 ekor/m2 dan untuk ayam tipe dwiguna 4–5 ekor/m2.
5) Pemberian cahaya
Sangat bermanfaat untuk meningkatkan produksi telur, mempercepat dewasa kelamin, mengurangi sifat mengeram dan memperlambat molting. 

3.2.    Mempersiapkan Kandang cage dan Perlengkapannya.
Kandang sistem litter dan kandang sistem cage digunakan untuk ayam petelur. Satu sarang digunakan untuk 1 ekor (ukuran sarang biasanya 20 x 30 x 30 cm) dan untuk 3-5 ekor ayam petelur (ukuran sarang biasanya 30 x 45 x 50 cm). Sebagai perlengkapan kandangnya digunakan tempat pakan dan minum, umunya untuk ayam yang dipelihara dalam sistem litter digunakan hanging feeder/hanging waterer untuk menghemat tenaga kerja biasanya dilakukan di perusahaan besar. Untuk tempat pakan/minum umumnya digunakan yang berbentuk trough (memanjang).
3.2.1.   Pemeliharaan dalam Sistem Litter
Jika ayam telah mencapai dewasa kelamin dan produksinya telah mencapai 5 % disebut telah mulai berproduksi.ayam petelur dipelihara dalam sistem litter dan bertelur dalam sarang. Alas sarang perlu dilapisi dengan litter untuk menjaga agar kulit telur tidak retak atau pecahpada saat ayam sudah bertelur. Tempat ransum berbentuk hanging feeder ditempatkan setinggi punggung ayam, sedangkan tempat minum ditempatkan setinggi leher dari ayam. Jika timbul sifat kanibalisme atau kebiasaan jelek meatuk-matuk telur, paling efektif untuk mengatasinya dengan cara memotong paruh pada bagian atas sekitar 1/3 panjang paruh. Alat nya disebut dengan electric debeaker atau bisa dgunakan pisau biasa yang dipijarkan terlebih dahulu pada temperatur 81,5 0C. 

3.2.2.   Pemeliharaan Ayam Petelur dalam Cage
Cara penyusunan cage dalam bangunan kandang utama, bayak metode yang digunakan agar cage dapat ditempatkan lebih banyak. Cara pengaturan kandangnya dapat dilakukan dengan cara :
1)  Single deck : cage dalam kandang hanya satu tingkat
2)  Double deck : pengaturan semacan ini disebut stair-steps-system.
3)  Triple deck : untuk mencegah kotoran jatuh ke bawah salah satu areal tertentu diberi alas kandang/ alat pencegah kotoran sehingga kotoran tidak jatuh ke bawah.
4)  Flat deck : single deck yang disusun rapat satu sama lain tanpa ada jalan untuk memberi makan, minum dan pengambilan telur, pekerjaannya dilakukan secara otomatis.
Sistem cage ini terdapat keuntungan dan kerugiannya yaitu :
1. Keuntungan :
ü  Lebih sedikit tenaga untuk membuang kororan
ü  Areal pemeliharaan lebih bersih
ü  Kotoran langsung jatuh ke parit
Kerugian: : 
ü  Jika kandang tidak tertutup rapat, binatang pengerat (tikus) akan menjadi ancaman karena kotoran di parit akan dijadikan sarangnya.
ü  Biaya pembuatan kandang lebih besar
ü  Bila ada air yang juatuh ke parit, bisa menyebabkan bacteri aerobic menjadi aktif dan timbil bau tidak enak.
3.3.    Ransum Ayam Petelur Fase Produksi
Bentuk-bentuk fisik ransum untuk ayam petelur : 
3.3.1.      Mash and Limited grains (campuran bentuk tepung dan butiran). 
Bentuk ransum ini dibuat dengan mencampur sendiri secara manual. Contohnya jagung giling, bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung ikan yang kemudian dicampur dengan dedak halus secara manual dan hasilnya ransum yang terdiri dari bagian-bagian halus dan butiran.
3.3.2.      All Mash (bentuk tepung)
Tidak tahan lama disimpan (mudah tengik) dan sering menyebabkan kanibalisme yang tinggi.
3.3.3.      Pellet (bentuk butiran dengan ukuran yang sama) 
Jika diberikan ransum ini biasanya ayam memiliki nafsu makan yang tinggi karena unggas lebih menyenangi ransum yang berbentuk butiran. Lebih tahan lama jika disimpan.
3.3.4.      Crumble (bentuk butiran tetapi ukurannya tidak sama) 
Bentuk crumble biasanya merupakan hasil ikutan dari ransum pembuatan pellet.  Ransum yang disusun harus mengandung zat-zat makana yang diperlukan dan dalam keadaan imbangan yang baik agar diperoleh performans yang optimal.
3.4.    Evaluasi Produksi Telur

Nilai standar produktivitas ayam telah ditentukan oleh perusahaan pembibitan (breeder). Standar tersebut meliputi hen day,  hen hosuse, berat telur, lama produksi, konversi ransum, kekebalan dan daya hidup serta pertumbuhan. Pencapaian performan tersebut tergantung dari manajemen pemeliharaan yang diterapkan oleh masing-masing peternak.
3.4.1.   Hen Day (HD)
Hen day ialah persentase produksi telur yang dihasilkan oleh ayam produktif per hari. Rata-rata produksi (HD) layer selama hidupnya ialah 80% dengan HD mencapai puncak produksi pada angka 95% dan persistensi produksi (lama bertahan dipuncak HD>90%) selama 23-24 minggu (rata-rata strain ayam petelur).
Informasi pasar selayaknya selalu diketahui oleh peternak. Fluktuasi harga telur yang selalu terjadi membuat peternak harus selalu melakukan pemantauan pasar. Produksi telur dari bulan ke bulan tidak sama, karena itu untuk menghitung produksi Itelur (HD) setiap bulannya dilakukan dengan mengkalkulasikan data produksi harian. Disinilah pentingnya pencatatan atau recording harian. Perlu juga kita memprediksikan pendapatan dari penjualan telur berdasarkan data produksi rata-rata bulanan dan harga rata-rata per bulan.
Keterangan :
RHD : Rata-rata Hen Day (%)
A       : Jumlah ayam
T       : jumlah 1 kg telur (16 butir)
Ayam petelur di afkir umur ± 2 tahun 
3.4.2.   Hen House
3.4.3.   Berat Telur
3.4.4.   Puncak Produksi
3.4.5.   Feed Convertion Ratio


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Salam

Banner Header

iklan monggo

Banner Header

Anda tertarik

Banner Header

Sukses

Banner Header

Iklan disini

Banner Header

Silahkan hubungi

Banner Header

Berjamaah

Banner Header

Iklan jugo

Banner Header

085368986578

Banner Header
 
Blogger Templates