Pages

Ads 468x60px

Text Widget

Sabtu, 25 Februari 2017

Evaluasi Performance Usaha Ayam Petelur


Dalam menjalankan usaha ternak ayam petelur sangat penting mengetahui keberhasilan usahanya.  Mengevaluasi usaha ayam petelur tidak semudah menghitung performans usaha ayam broiler.  Dalam usaha peternakan ada tiga factor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak yaitu breeding feeding dan manajemen, namun parameter yang akan kita gunakan untuk mengevaluasi usaha ternak ayam petelur dibagi menjadi 2 aspek yaitu pencapaian produksi (teknis pemeliharaan) dan keuntungan financial. Kali ini akan kita bahas mengenai pencapaian produksi yang akan kita bagi menjadi dua yaitu pra produksi dan produksi.
      1.      Evaluasi pra produksi
Produksi telur layer sangat tergantung pada kualitas pullet yang akan dipelihara.  Secara ringkas, pullet adalah ayam yang dipelihara di umur 0-16 minggu. Pendapat lain menyatakan bahwapullet adalah ayam masa DOC hingga masa bertelur di bawah 5%. Berdasarkan kebutuhan nutrisi, pullet terbagi dua yaitu starter (0-5 minggu) dan grower (6-16 minggu).Program pembentukan pullet yang OK harus dimulai sejak DOC hingga menjelang awal produksi. Program tersebut harus mencakup berbagai kegiatan yang berjalan terus-menerus dan berkelanjutan. Untuk menyusun program tersebut, peternak sebaiknya mengetahui bagaimana ciri-ciri pullet berkualitas dan membentuk pullet tersebut.
Cirri-ciri pullet yang baik yaitu :
1.      Memiliki ciri fisik ayam petelur yang baik
2.      Berat badan sesuai dengan standart dari breeder
3.      Kerangka tubuh (frame size) optimal kurang dari 12 minggu
4.      Keseragaman lebih dari 85% (baik bobot badan, frame size dan kematangan seksual)
5.      Mortalitas rendah (2-3%)
Factor yang mempengaruhi keseragaman antara lain
1.      Konsumsi pakan
2.      Kepadatan ayam
3.      Jumlah tempat pakan dan tempat minum
4.      Pencahayaan
Agar keseragaman bobot badan dapat tercapai maka peternak harus rajin melakukan control bobot badan ayam. Untuk menghitung keseragaman bobot dapat dilakukan dengan menimbang sampelnya saja secara random atau acak. Berikut adalah contoh perhitungan untuk mengetahui keseragaman bobot badan ayam :
Data penimbangan bobot badan secara acak sebanyak 20 ekor dalam gram sebagai berikut :
75, 65, 76,63, 75, 70, 72, 74, 60, 74, 75, 79, 80, 70, 74, 65, 71,75,77,70 dengan total rata-rata bobot badan 72 gram
Keseragaman bobot badan (uniformity) adalah….
Hitung rentang bobot badan seragam rata BB ± 10 %
(72 – 0,72) sampai dengan (72+ 0,72)
64,8 – 79,2
Maka bobot badan yang tidak masuk rentang ada tiga ekor yaitu 60, 63, dan 80 maka yang masuk ada 17 ekor
Maka keseragamannya adalah
17/20 x 100 % = 85%
Disamping keseragaman juga kita harus memperhatikan record/riwayat kesehatan pullet agar kita mudah mendiagnosa penyakit apabila ayam kita terserang penyakit.  Karena riwayat kesehatan ini amat penting maka memelihara pullet sendiri lebih baik dari pada membeli pullet siap produksi, apabila bukan dari perusahaan pemelihara pullet yang terpercaya.
      


      2.      Performance masa produksi
Parameter keberhasilan pencapaian produktivitas ayam petelur pada periode produksi atau layer sangat menentukan keuntungan yang diperoleh.  Factor-faktor yang mempengaruhinya adalah  kualitas dan harga pakan, mortalitas, lama puncak produksi, manajemen pemeliharaan dll.  Beberapa rumus untuk menghitung atau alat mengevaluasi performance ayam petelur adalah sebagai berikut :
1.      Mortalitas (tingkat kematian)
Mortalitas ditentukan oleh banyak faktor seperti kesalahan manajemen pemeliharaan dan infeksi bibit penyakit. Untuk mencegah tingginya angka mortalitas, maka jalan keluarnya ialah meminimalkan faktor penyebab mortalitas. Mortalitas akan mempengaruhi nilai penyusutan ayam. Standar mortalitas layer selama masa grower 2-3%, sedangkan pada masa produksi 4-7% (Lohman Management Guide, 2007). Rumusnya adalah jumlah ayam yang mati dibagi populasi dikali 100%.
2.      Susut (deplesi) ayam dalam seminggu :
Jumlah kumulatif ayam yang mati dan “culling” dalam seminggu dibagi jumlah ayam pada awal minggu dikalikan persen (%). Standar maksimum 0,20% per minggu;
3.      Susut (deplesi) ayam dalam sebulan :
Jumlah kumulatif ayam mati dan “culling” dalam sebulan dibagi jumlah ayam pada awal bulan dikalikan persen (%). Standar maksimum 0,84% per bulan;
4.      Susut (deplesi) ayam dalam seperiode, umur 20 – 80 minggu atau sampai afkir :
Jumlah kumulatif ayam mati (standarnya 1/3 bagian) dan “culling” (standarnya 2/3 bagian) dalam satu periode dibagi jumlah ayam pada awal periode (sejak Hen Week 5%) dikalikan persen (%). Standar maksimum 10% per periode;
5.      Feed Intake (F.I) atau jumlah pakan ayam :
Pakan yang diberikan kepada ayam (kg) dibagi jumlah ayam x 1.000 (gram/ekor). Standar strain 111 – 113 gram/ekor/hari;
6.      Point Feed (P.I) atau pakan yang benar-benar dimakan oleh ayam :
Jatah pakan yang diberikan ke ayam dikurangi yang tercecer. Hitungan ini jarang digunakan karena praktis tidak ada peternak yang menghitung berapa gram pakan yang tercecer per ekor. Sebetulnya ini hitungan yang riil (gram/ekor).
7.      Hen Day % (H.D %) :
Hen day ialah persentase produksi telur yang dihasilkan oleh ayam produktif per hari. Rata-rata produksi (HD) layer selama hidupnya ialah 80% dengan HD mencapai puncak produksi pada angka 95% dan persistensi produksi (lama bertahan dipuncak HD>90%) selama 23-24 minggu (rata-rata strain ayam petelur)
Contoh : jumlah ayam layer pada pagi hari 1.000 ekor, total produksi telur dalam satu hari 850 butir, maka HD-nya 840 butir/1.000 ekor x 100% = 84%. Standar strain 82 – 85%;
8.      Hen Week % (H.W %) :
Contoh : produksi telur dalam seminggu, misal 5.775 butir dibagi jumlah ayam pada awal minggu, misal 998 ekor, berapa pun ayam yang mati, maka HW-nya = 5.775 butir/7 hari/998 ekor = 82,7%. Standar strain 82 – 84%;
9.      Egg Weight (E.W) atau bobot telur per butir (gram) :
Bobot telur (kg) dibagi jumlah telur (butir) x 1.000 = gram/butir telur. Standarnya minimum 62,5 gram/butir;
10.  Egg Mass (E.M) atau bobot telur (kg) per 1.000 ekor ayam :
Bobot telur (kg) dibagi jumlah ayam x 1.000 ekor (kg/1.000 ekor). Standarnya 52 – 53 kg/1.000 ekor;
11.  Hen House (H.H) Butir dan Kg :
Adalah total produksi telur sejak H.W 5%. Misal jumlah ayam 1.000 ekor, pada umur 20 minggu s.d umur 80 minggu, didapat 320.395 butir/1.000 ekor = 320,4 butir/ekor. Standarnya 325 butir/ekor/periode.
Bila berdasarkan bobot, maka jumlah kumulatif bobot telurnya, misalnya 20.934,1 kg/1.000 ekor = 20,9 kg/ekor, berapa pun sisa ayam yang hidup. Standarnya minimum 20 kg telur/ekor/periode;
12.  FCR Total
Konversi ransum dalam farm layer merupakan jumlah ransum yang dikonsumsi ayam untuk menghasilkan sebutir telur. Ayam yang baik akan mengkonsumsi sejumlah ransum lebih sedikit dibandingkan telur yang dihasilkan. Idealnya satu kilogram ransum dapat menghasilkan satu kilogram telur atau lebih. Namun sampai saat ini, hal itu belum pernah ada. Nilai FCR untuk layer berkisar 2,1 – 2,3. FCR Ayam petelur dihitung dari jumlah pakan kumulatif sejak H.W 5% s.d umur 80 minggu/afkir. Misal habis 44.970 kg, dibagi jumlah telur kumulatif 20.934,1 kg = 2,15.


 Agar evaluasi performance dapat berjalan dengan baik maka recording mutlak dijalankan.  Dari data recording dapat dibuat kurva perkembangan dari awal sampai akhir produksi, sehingga dapat menggambarkan perjalanan dari ayam dalam satu peridode pemeliharaan dan dapat dipakai untuk bahan evaluasi peternak dalam menjalankan usahanya. demikianlah beberapa aspek yang diperlukan untuk mengevaluasi performance ayam petelur. Aspek evaluasi financial akan kita bahas dilain kesempatan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Salam

Banner Header

iklan monggo

Banner Header

Anda tertarik

Banner Header

Sukses

Banner Header

Iklan disini

Banner Header

Silahkan hubungi

Banner Header

Berjamaah

Banner Header

Iklan jugo

Banner Header

085368986578

Banner Header
 
Blogger Templates