Pages

Ads 468x60px

Text Widget

Sabtu, 25 Februari 2017

Evaluasi Performance Usaha Ayam Petelur


Dalam menjalankan usaha ternak ayam petelur sangat penting mengetahui keberhasilan usahanya.  Mengevaluasi usaha ayam petelur tidak semudah menghitung performans usaha ayam broiler.  Dalam usaha peternakan ada tiga factor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak yaitu breeding feeding dan manajemen, namun parameter yang akan kita gunakan untuk mengevaluasi usaha ternak ayam petelur dibagi menjadi 2 aspek yaitu pencapaian produksi (teknis pemeliharaan) dan keuntungan financial. Kali ini akan kita bahas mengenai pencapaian produksi yang akan kita bagi menjadi dua yaitu pra produksi dan produksi.
      1.      Evaluasi pra produksi
Produksi telur layer sangat tergantung pada kualitas pullet yang akan dipelihara.  Secara ringkas, pullet adalah ayam yang dipelihara di umur 0-16 minggu. Pendapat lain menyatakan bahwapullet adalah ayam masa DOC hingga masa bertelur di bawah 5%. Berdasarkan kebutuhan nutrisi, pullet terbagi dua yaitu starter (0-5 minggu) dan grower (6-16 minggu).Program pembentukan pullet yang OK harus dimulai sejak DOC hingga menjelang awal produksi. Program tersebut harus mencakup berbagai kegiatan yang berjalan terus-menerus dan berkelanjutan. Untuk menyusun program tersebut, peternak sebaiknya mengetahui bagaimana ciri-ciri pullet berkualitas dan membentuk pullet tersebut.
Cirri-ciri pullet yang baik yaitu :
1.      Memiliki ciri fisik ayam petelur yang baik
2.      Berat badan sesuai dengan standart dari breeder
3.      Kerangka tubuh (frame size) optimal kurang dari 12 minggu
4.      Keseragaman lebih dari 85% (baik bobot badan, frame size dan kematangan seksual)
5.      Mortalitas rendah (2-3%)
Factor yang mempengaruhi keseragaman antara lain
1.      Konsumsi pakan
2.      Kepadatan ayam
3.      Jumlah tempat pakan dan tempat minum
4.      Pencahayaan
Agar keseragaman bobot badan dapat tercapai maka peternak harus rajin melakukan control bobot badan ayam. Untuk menghitung keseragaman bobot dapat dilakukan dengan menimbang sampelnya saja secara random atau acak. Berikut adalah contoh perhitungan untuk mengetahui keseragaman bobot badan ayam :
Data penimbangan bobot badan secara acak sebanyak 20 ekor dalam gram sebagai berikut :
75, 65, 76,63, 75, 70, 72, 74, 60, 74, 75, 79, 80, 70, 74, 65, 71,75,77,70 dengan total rata-rata bobot badan 72 gram
Keseragaman bobot badan (uniformity) adalah….
Hitung rentang bobot badan seragam rata BB ± 10 %
(72 – 0,72) sampai dengan (72+ 0,72)
64,8 – 79,2
Maka bobot badan yang tidak masuk rentang ada tiga ekor yaitu 60, 63, dan 80 maka yang masuk ada 17 ekor
Maka keseragamannya adalah
17/20 x 100 % = 85%
Disamping keseragaman juga kita harus memperhatikan record/riwayat kesehatan pullet agar kita mudah mendiagnosa penyakit apabila ayam kita terserang penyakit.  Karena riwayat kesehatan ini amat penting maka memelihara pullet sendiri lebih baik dari pada membeli pullet siap produksi, apabila bukan dari perusahaan pemelihara pullet yang terpercaya.
      


      2.      Performance masa produksi
Parameter keberhasilan pencapaian produktivitas ayam petelur pada periode produksi atau layer sangat menentukan keuntungan yang diperoleh.  Factor-faktor yang mempengaruhinya adalah  kualitas dan harga pakan, mortalitas, lama puncak produksi, manajemen pemeliharaan dll.  Beberapa rumus untuk menghitung atau alat mengevaluasi performance ayam petelur adalah sebagai berikut :
1.      Mortalitas (tingkat kematian)
Mortalitas ditentukan oleh banyak faktor seperti kesalahan manajemen pemeliharaan dan infeksi bibit penyakit. Untuk mencegah tingginya angka mortalitas, maka jalan keluarnya ialah meminimalkan faktor penyebab mortalitas. Mortalitas akan mempengaruhi nilai penyusutan ayam. Standar mortalitas layer selama masa grower 2-3%, sedangkan pada masa produksi 4-7% (Lohman Management Guide, 2007). Rumusnya adalah jumlah ayam yang mati dibagi populasi dikali 100%.
2.      Susut (deplesi) ayam dalam seminggu :
Jumlah kumulatif ayam yang mati dan “culling” dalam seminggu dibagi jumlah ayam pada awal minggu dikalikan persen (%). Standar maksimum 0,20% per minggu;
3.      Susut (deplesi) ayam dalam sebulan :
Jumlah kumulatif ayam mati dan “culling” dalam sebulan dibagi jumlah ayam pada awal bulan dikalikan persen (%). Standar maksimum 0,84% per bulan;
4.      Susut (deplesi) ayam dalam seperiode, umur 20 – 80 minggu atau sampai afkir :
Jumlah kumulatif ayam mati (standarnya 1/3 bagian) dan “culling” (standarnya 2/3 bagian) dalam satu periode dibagi jumlah ayam pada awal periode (sejak Hen Week 5%) dikalikan persen (%). Standar maksimum 10% per periode;
5.      Feed Intake (F.I) atau jumlah pakan ayam :
Pakan yang diberikan kepada ayam (kg) dibagi jumlah ayam x 1.000 (gram/ekor). Standar strain 111 – 113 gram/ekor/hari;
6.      Point Feed (P.I) atau pakan yang benar-benar dimakan oleh ayam :
Jatah pakan yang diberikan ke ayam dikurangi yang tercecer. Hitungan ini jarang digunakan karena praktis tidak ada peternak yang menghitung berapa gram pakan yang tercecer per ekor. Sebetulnya ini hitungan yang riil (gram/ekor).
7.      Hen Day % (H.D %) :
Hen day ialah persentase produksi telur yang dihasilkan oleh ayam produktif per hari. Rata-rata produksi (HD) layer selama hidupnya ialah 80% dengan HD mencapai puncak produksi pada angka 95% dan persistensi produksi (lama bertahan dipuncak HD>90%) selama 23-24 minggu (rata-rata strain ayam petelur)
Contoh : jumlah ayam layer pada pagi hari 1.000 ekor, total produksi telur dalam satu hari 850 butir, maka HD-nya 840 butir/1.000 ekor x 100% = 84%. Standar strain 82 – 85%;
8.      Hen Week % (H.W %) :
Contoh : produksi telur dalam seminggu, misal 5.775 butir dibagi jumlah ayam pada awal minggu, misal 998 ekor, berapa pun ayam yang mati, maka HW-nya = 5.775 butir/7 hari/998 ekor = 82,7%. Standar strain 82 – 84%;
9.      Egg Weight (E.W) atau bobot telur per butir (gram) :
Bobot telur (kg) dibagi jumlah telur (butir) x 1.000 = gram/butir telur. Standarnya minimum 62,5 gram/butir;
10.  Egg Mass (E.M) atau bobot telur (kg) per 1.000 ekor ayam :
Bobot telur (kg) dibagi jumlah ayam x 1.000 ekor (kg/1.000 ekor). Standarnya 52 – 53 kg/1.000 ekor;
11.  Hen House (H.H) Butir dan Kg :
Adalah total produksi telur sejak H.W 5%. Misal jumlah ayam 1.000 ekor, pada umur 20 minggu s.d umur 80 minggu, didapat 320.395 butir/1.000 ekor = 320,4 butir/ekor. Standarnya 325 butir/ekor/periode.
Bila berdasarkan bobot, maka jumlah kumulatif bobot telurnya, misalnya 20.934,1 kg/1.000 ekor = 20,9 kg/ekor, berapa pun sisa ayam yang hidup. Standarnya minimum 20 kg telur/ekor/periode;
12.  FCR Total
Konversi ransum dalam farm layer merupakan jumlah ransum yang dikonsumsi ayam untuk menghasilkan sebutir telur. Ayam yang baik akan mengkonsumsi sejumlah ransum lebih sedikit dibandingkan telur yang dihasilkan. Idealnya satu kilogram ransum dapat menghasilkan satu kilogram telur atau lebih. Namun sampai saat ini, hal itu belum pernah ada. Nilai FCR untuk layer berkisar 2,1 – 2,3. FCR Ayam petelur dihitung dari jumlah pakan kumulatif sejak H.W 5% s.d umur 80 minggu/afkir. Misal habis 44.970 kg, dibagi jumlah telur kumulatif 20.934,1 kg = 2,15.


 Agar evaluasi performance dapat berjalan dengan baik maka recording mutlak dijalankan.  Dari data recording dapat dibuat kurva perkembangan dari awal sampai akhir produksi, sehingga dapat menggambarkan perjalanan dari ayam dalam satu peridode pemeliharaan dan dapat dipakai untuk bahan evaluasi peternak dalam menjalankan usahanya. demikianlah beberapa aspek yang diperlukan untuk mengevaluasi performance ayam petelur. Aspek evaluasi financial akan kita bahas dilain kesempatan…

Kamis, 23 Februari 2017

HPP TELUR AYAM RAS, SEKARANG BERAPA?



Drh Djarot Winarno

Kenaikan harga bahan bakar minyak, tentu sangat berpengaruh terhadap kenaikan harga bahan baku pakan ayam. Terutama bahan baku yang berasal dari luar negeri atau impor. Lebih-lebih dengan naiknya permintaan pasar internasional dan pemakaian sebagian bahan baku pakan untuk memproduksi energi, maka harganya pun menjadi semakin mahal. Pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap biaya transport juga sangat terasa sekali, semakin mahal. Selanjutnya, akan sangat berpengaruh terhadap harga pokok produksi telur.
Harga pokok produksi (HPP) merupakan puncak dari berbagai variabel kegiatan manajemen peternakan ayam petelur. Komponen-komponen pembentuk harga pokok produksi telur : (1) pakan, (2) biaya operasional (upah, bahan bakar minyak, listrik, telepon, material-material, perawatan), (3) penyusutan pullet (ayam dara sampai dengan umur 19 minggu), (4) penyusutan investasi infrastruktur (kandang, gudang pakan dan telur, mess, kantor, listrik, jalan dll), (5) biaya penjualan (6) obat, vaksin, vitamin dan kimia, dan (7) biaya lain-lain.
Komponen Pembentuk Harga Pokok Produksi Telur
1.       Pakan
Harga pakan jadi/komplit buatan pabrik di Jawa Timur yang berlaku saat tulisan ini dibuat, per 1 Juli 2008, rata-rata Rp 3.700,-/kg. Ditambah biaya kirim ke kandang dengan jarak 100 km dan upah menurunkan, lebih kurang Rp 75,-/kg. Jadi, harga pakan, sampai dimakan ayam, menjadi Rp 3.775,-/kg. Dikalikan FCR (feed conversion ratio) total populasi ayam petelur yang berproduksi, umur 20 s/d 80 minggu, rata-rata 2.35, maka biaya pakan, Rp 8.871,-/kg.
2.        Biaya Operasional
Yang termasuk biaya operasional adalah semua biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan peternakan ayam petelur untuk berproduksi. Meliputi listrik, telepon, air, upah/gaji tenaga kerja, perawatan, material-material, sosial, kesehatan, pengamanan dan lain-lain. Antara satu peternakan dengan peternakan yang lain tentu saja berbeda. Tergantung dari sistem kandang yang digunakan, alat dan cara pemberian pakan dan minum, apakah manual, semi-otomatis atau otomatis. Menurut pengalaman peternak di Jawa Timur, dengan cara pemberian pakan dan minum secara manual, biaya operasionalnya lebih kurang Rp 700,-/kg. Bila semi-otomatis atau otomatis, biayanya bisa lebih murah Rp 100 – 200,-/kg.
3.        Penyusutan Pullet
Yang dianggap pullet di sini adalah ayam dara sampai dengan umur 133 hari (umur 19 minggu, hari ke-7). Sedangkan yang dimaksud layer adalah ayam petelur umur 134 hari (umur 20 minggu, hari ke-1) s/d 80 minggu. Dengan harga anak ayam, pakan, biaya operasional, vaksin, vitamin, kimia dan lain-lain yang berlaku saat ini, per 1 Juli 2008, harga pullet sampai dengan umur 133 hari, lebih kurang Rp 50.000,-/ekor.
Saat layer tua diafkir pada umur 80 minggu, harga di Jawa Timur rata-rata hanya Rp 10.000,-/kg. Bobot badan rata-rata 1,9 kg/ekor = Rp 19.000,-/ekor. Sedangkan sisa hidup saat diafkir pada umur 80 minggu, rata-rata 17,5%. Jadi, pendapatan dari ayam afkir Rp 19.000,- x 82,5%=Rp16.625,-/ekor. Nilai penyusutan pullet adalah harga awal masa produksi, dikurangi pendapatan afkir, sisa Rp 33.375,-/ekor, dibagi pendapatan telur dalam 1 (satu) periode s/d umur 80 minggu, rata-rata 19 kg telur/ekor = Rp 1.756,-/kg.
4.        Biaya Penyusutan Investasi Kandang dan Infrastruktur
Beban biaya penyusutan investasi kandang dan infra-struktur penunjang, tidak termasuk nilai lahan. Karena lahan nilainya tidak menyusut, malah akan naik terus dari waktu ke waktu.
Kandang dan infra-struktur penunjang yang sudah ada saat ini, pada umumnya dibuat 3 – 10 tahun yang lalu dimana nilainya saat itu rata-rata Rp 40.000,-/ekor. Hampir tidak ada investasi kandang baru dalam 3 (tiga) tahun terakhir. Dengan perhitungan masa pakai bisa 10 tahun (= 7 periode), maka nilai penyusutan investasi awal sama dengan Rp 40.000 : 7 periode : 19 kg telur per periode, Rp 300,-/kg.
Bagi Anda yang sering memundurkan jadwal afkir, 6 – 10 minggu tiap periode, maka pemakaian kandang tidak bisa 7 (tujuh) periode dalam 10 (sepuluh) tahun, hanya 6 (enam) periode saja. Nilai penyusutan investasinya menjadi Rp 40.000 : 6 periode : 21 kg (karena umur afkirnya dimundurkan, tapi produktifitasnya sudah jelek) = Rp 317,-/kg. Malah jadi lebih mahal.
Belum lagi tingginya rasio upah tenaga kerja akibat rendahnya produktifitas layer yang sudah tua, yang sebenarnya sudah tidak layak “pakai”. Kualitas telur jadi menurun, resikonya banyak keluhan dari pelanggan telur. Persentase telur retak dan pecah meningkat. FCR ayam tua juga sangat jelek, lebih dari 2,5. Akibatnya, pemanfaat investasi kandang dan infrastruktur menjadi kurang ekonomis. Ini sebagai bahan renungan bagi Anda, para peternak petelur. 
5.       Biaya Penjualan
Setelah telur diproduksi, masih ada biaya yang harus dikeluarkan untuk menjualnya walaupun dijual di tempat (loco) di kandang atau gudang telur. Biaya-biaya itu meliputi telepon, listrik, susut bobot, retak, pecah, upah tenaga kerja, kemasan (peti kayu, egg trey, tali, label dan lain-lain). Rata-rata biaya penjualan Rp 200,-/kg.
6.       Obat-obatan, Vaksin dan Kimia (O.V.K.)
Perusahaan peternakan ayam petelur, karena mengelola makhluk hidup, maka memerlukan obat-obatan (antibiotik, anti cacing), vaksin (vaksin mati dan vaksin hidup) dan kimia (desinfektan, insektisida, vitamin) supaya ayam tetap sehat dan berproduksi secara optimal. Vaksinasi terhadap beberapa penyakit harus diulang berkala, obat cacing perlu diulang berkala, pemberantasan hama lalat dan kutu, biosekuriti dan vitamin juga harus diberikan secara berkala. Total biaya OVK bila dirata-rata tidak kurang dari Rp 250,-/kg.
7.        Biaya Lain-lain
Dalam perjalanan suatu perusahaan, tidak terlepas dari hal-hal yang terjadi di luar perkiraan atau tak terduga. Biasanya menyangkut biaya sosial, kesehatan karyawan, keamanan, kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja. Maka, perlu dicadangkan biaya tak terduga, diperkirakan rata-ratanya perlu anggaran sebesar Rp 50,-/kg.
Catatan : dalam pembahasan ini diasumsikan semua biaya investasi dari “kantong” sendiri. Dianggap tidak pakai uang bank. Maka, tidak ada biaya bunga dan angsuran hutang ke bank. Istilahnya, pakai “uang dingin”, bukan “uang panas”.
Rangkuman biaya-biaya :
1.       Pakan ………… Rp 8.871,- (74.15%)
2.       B.O. ………….. ...Rp 700,-   ( 5.77%)
3.       Pullet …………. Rp 1.756,- (14.48%)
4.       Investasi ……….. Rp 300,-  ( 2.47%)
5.       Penjualan ........ Rp 200,-  ( 1.65%)
6.       O.V.K …………….. Rp 250,-  ( 2.06%)
7.       Lain-lain …………… Rp 50,- ( 0.41%)
Total        Rp 12.127,- (100 %)
Berikutnya, supaya gampang menghitung secara cepat, rasio harga pokok produksi (= R.H.P.P.), yaitu harga pokok produksi telur Rp 12.127 : harga pakan Rp 3.775,-/kg = 3,2.

RUMUS
HPP TELUR = HARGA PAKAN X 3.2
Kalau toh ada selisih hitungan secara akunting, bisa dipastikan tidak akan banyak, Rp 100 – 200,-/kg. Persoalannya, bagaimana caranya peternak petelur bisa menekan HPP supaya kompetitif (punya daya saing tinggi, tidak tergantung dari tingginya harga jual) dan bisa bertahan dikancah peternakan ayam petelur serta masih bisa mendapat untung.

Evaluasi Manajemen Peternakan
Sebelumnya, mari kita mawas diri dulu, apakah manajemen peternakan ayam petelur yang Anda kelola sudah berada di jalur yang baik dan benar, baik efisiensi mau pun performance-nya :
1.       Ke-1 : High Cost – High Performance
2.       Ke-2 : Low Cost – Low Performance
3.       Ke-3 : High Cost – Low Performance
4.       Ke-4 : Low Cost – High Performance
Sekarang coba Anda tinjau dan atau evaluasi, apakah biaya-biaya untuk menghasilkan telur di perusahaan Anda sudah efisien. Terutama biaya pakan, biaya operasional dan biaya penyusutan pullet. Karena ketiga biaya tersebut menempati porsi yang paling banyak dan menentukan, yaitu 94.5%. Dan, Anda evaluasi apakah performance-nya sudah baik dan benar.
Bila Anda berada di jalur ke-1, mungkin masih bisa untung. Karena, dengan HC-HP, ada kemungkinan bisa tercapai FCR 2.1 – 2.2 dan gambaran grafik produksinya tidak turun secara curam tetapi bisa landai.
Bila Anda berada di jalur ke-2, LC-LP, umumnya masih bisa bertahan. Asal efisiensi biaya operasional dan pakan harus cukup nyata. Biaya operasional harus bisa lebih rendah Rp 200,-/kg telur dibanding peternak layer yang lain dan harga pakan harus bisa lebih murah Rp 200 – 300,-/kg dibanding peternak layer lain. Walaupun produktifitasnya lebih rendah, tetap ada selisih lebih antara harga jual telur dengan harga pokok produksi. Saran saya, cari upaya supaya ada sedikit peningkatan produktifitas. 
Bila Anda berada di jalur ke-3, HC-LP, hampir bisa dipastikan rugi. Bila Anda masih ingin mempertahankan peternakan yang sudah di jalur ini, Anda harus melakukan “reformasi” manajemen, terutama di level pimpinan.
Pada umumnya, perusahaan yang berjalan di jalur ke-3 ini, struktur organisasinya “gembung” seperti buah apel. Jadi, salah satu programnya harus dilakukan perampingan struktur organisasinya menjadi “segitiga sama kaki”, kokoh.

Kenyataan di lapangan, semakin banyak karyawan, bisa dipastikan semakin banyak masalah. Belum tentu karyawan yang direkrut mampu menyelesaikan masalah.
Cari karyawan yang memang mampu, profesional (jujur, disiplin, punya integritas pribadi yang utuh) dan berdedikasi tinggi. Ingat prinsip dasar dalam menyusun struktur organisasi, the rigth man on the right place (orang yang tepat didudukkan di posisi yang tepat). Bila sudah tidak mampu dan atau tidak mau mempertahankan lagi, saran saya, dijual saja atau di-“likuidasi”. Untuk apa “capek-capek” bekerja tetapi malah rugi.
Jalur ke-4, LC-HP, merupakan idaman semua peternak layer. Perusahaan yang berjalan di jalur ini, biasanya, struktur organisasinya ramping, masa kerja karyawannya relatif lama (rata-rata bisa >5 tahun), terbentuk teamwork yang harmonis dimana masing-masing orang jelas job description-nya dan hampir-hampir tidak ada konflik internal.

Capai Efisiensi
Supaya bisa efisien, perlu dibenahi rasio-rasionya, sebagai berikut :
1.       Rasio Populasi
Yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah total populasi layer atau ayam petelur yang berproduksi, yaitu mulai umur 20 – 80 minggu, dibagi semua karyawan yang terlibat mengelola suatu peternakan. Mulai Manajer, Kepala Bagian, Mandor, Staf, Satpam, karyawan kandang, karyawan gudang pakan, gudang telur, perawatan, umum dan lain-lain. Untuk peternakan dengan sistem kandang terbuka dan pemberian pakan dan minumnya manual, seyogyanya, rasionya tidak kurang dari 2.000 ekor per orang. Bila rasionya kurang dari 2.000 ekor per orang, biaya upah tenaga kerjanya menjadi relatif mahal. Upah tenaga kerja memakai patokan Upah Minimum Kabupaten (UMP) setempat.
Bila pemberian air minumnya pakai neaple, rasionya bisa 2.500 ekor per orang. Bila pemberian air minum dan pakan pakai sistem semi otomatis tanpa energi listrik (hopper dorong), rasionya bisa lebih dari 3.000 ekor per orang.
Bila sistem kandang, tata letak dan tata kelolanya dirancang sejak awal, rasionya bisa >3.000 ekor per orang. Biaya upah tenaga kerja tentu saja menjadi relatif lebih murah walau pun Anda memberi upah 125 - 150 % di atas Upah Minimum Kabupaten setempat. Keuntungannya, karyawan lebih mudah diatur karena orangnya sedikit tapi dengan take home pay tinggi, produktifitasnya menjadi lebih tinggi dan “betah” bekerja di tempat Anda. Tidak terjadi “gonta-ganti” karyawan terlalu sering.
2.       Rasio Biaya Operasional
Biaya operasional ada yang bersifat tetap (fixed cost), ada yang bersifat tidak tetap (vaiable cost). Logikanya, sebaiknya Anda harus bisa menekan biaya tetap. Misalnya, menggunakan karyawan tetap sedikit saja, yaitu sebatas tenaga inti atau tenaga terampil. Selebihnya, yang tidak memerlukan keterampilan tinggi, cukup menggunakan karyawan harian dan atau borongan. Di peternakan ayam pedaging, semua karyawan kandang sistem upahnya borongan.
3.        Rasio Konversi Pakan (Feed Conversion Ratio = FCR)
Porsi terbesar komponen pembentuk harga pokok produksi telur adalah pakan yaitu lebih kurang 75%. Maka dari itu segala daya upaya harus diusahakan bisa menghasilkan penghematan pemakaian pakan tetapi tanpa mengorbankan sisi produktifitas. Semua strain layer yang beredar di Indonesia mengaku bahwa, FCR strainnya bisa 2.1–2.2. Kenapa tidak bisa? Pengalaman banyak peternak layer di Jatim, FCR tersebut bisa dicapai dan dipertahankan selama bertahun-tahun, sejak 1995 sampai sekarang. Pemberian pakannya secara manual, tetapi pemberian air minum pada umumnya sudah pakai nipple.
Coba Anda hitung berapa rupiah yang menguap (potential loss) bila FCR 2.35 dibanding FCR 2.20. Berarti ada penghematan pemakaian pakan sebesar 0.150 kg pakan/kg telur x harga pakan Rp 3.775 = Rp 566,-/kg telur.
Anda yang punya layer 100.000 ekor, nilai penghematannya : produksi rata-rata 5.000 kg x Rp 566,- = Rp 2.830.000,-/hari x 30 hari = Rp 84.900.000,-/bulan x 12 bulan = Rp1.018.800.000,-/tahun. Sungguh fantastis.
Padahal ini hitungan dari jumlah layer 100.000 ekor saja. Bagi Anda yang punya layer banyak, >200.000 ekor, tidak akan rugi bila mengkaryakan tenaga ahli dengan gaji di atas Rp 10.000.000,-/bulan, dengan catatan performance dan efisiensi, yaitu egg mass >50 kg/1.000 ekor dan FCR maksimum 2.20.
Pemberian air minum ayam pakai nipple, jauh lebih hemat biaya listrik dan air serta hampir-hampir tidak ada limbah. Pemakaian pakannya juga bisa hemat 2 – 3 gram/ekor/hari dibanding pemberian air minum pakai talang.
Pemberian pakan ayam pakai corong (hopper) yang didorong tenaga manusia sangat menghemat pakan, bisa mencapai 2 – 3 gram/ekor/hari dibanding pemberian pakan secara manual pakai tenaga manusia. Karena pakan yang tercecer hampir tidak ada. Bila Anda mau, konstruksi kandang yang sudah ada bisa dimodifikasi supaya bisa pakai nipple dan hopper.
Kombinasi keduanya, pemberian air minum pakai nipple dan pemberian pakan pakai hopper, bisa menghemat pemakaian pakan lebih kurang 5 (lima) gram/ekor/hari. Tanpa perlu membatasi jatah pakan ayam. Pemberian pakan bisa tetap ad libitum. Artinya, biarkan ayam yang mengatur seberapa jumlah nutrisi yang dibutuh sesuai umurnya. Karena layer sangat jujur, dikasih makan sedikit, produksi telurnya sedikit dan kecil. Dikasih makan banyak, produksi telurnya banyak dan besar. Ingat, harga pakan sangatlah mahal. Tiap gram yang bisa dihemat, akan sangat bermanfaat.
4.        Rasio Produktifitas Layer
Peternak layer wajib punya catatan (recording) produksi bukan yang harian (Hen Day) saja, tetapi harus lengkap sampai recording per periode (Hen House). Produktifitas layer, umur 20 – 80 minggu, usahakan bisa mencapai rata-rata minimum 50 kg telur/1.000 ekor. Sedangkan sebagai bahan evaluasi per periode hen house, produksi telur seharusnya bisa mencapai 20 kg telur/ ekor pada umur 76–80 minggu. Standard tersebut bisa dicapai bila produktifitas telur harian tinggi, >50 kg telur/1.000 ekor dan diimbangi dengan susut jumlah ayam rendah, seperiode tidak lebih dari 10% (=0.6% per bulan).
Demikian sekilas ringkas hitungan harga pokok produksi telur saat ini, dengan dasar harga pakan dan anak ayam yang berlaku per 01 Juli 2008. Bila, pada kemudian hari harga pakan, anak ayam, upah tenaga kerja, bahan bakar minyak naik lagi, berapa pun naiknya, maka cara menghitungnya mudah sekali. Demikian juga bila terjadi sebaliknya, harga-harga turun. HPP telur = harga pakan x 3,2.
Semoga bermanfaat.

Ekbis Infovet Edisi 169 Agustus 2008

Rabu, 22 Februari 2017

Cowboy, Lasso dan Peternakan


Para pejabat kementerian pertanian apabila berkunjung mengapa mereka selalu menggunakan topi koboi? Yach karena peternak identik dengan topi koboi, seperti petani sawah/ladang selalu menggunakan caping.  Tahukah anda tentang topi koboi dan tali lasso? Pasti tahu semua karena saking populernya terutama diera 80-90 banyak film-film yang aktornya berpenampilan memakai berbagai atribut yang akhirnya dikenal dengan sebutan Cowboy (baca koboi). Berikut dijelaskan asal muasal dari topi koboi dan tali lasso yang merupakan symbol bagi para peternak.  John Batterson Stetson adalah seorang Amerika yang lahir di Orange, New Jersey tahun 1830. Sampai saat ini nama Stetson melekat sebagai bagian dari istilah “the real Stetson hat” atau yang umum kita kenal dengan topi koboi. Berdasarkan kisah yang diceritakan secara turun temurun, koboi pertama yang menggunakan topi Stetson menebusnya seharga 5 diolar dalam bentuk emas. Kala itu sang koboi bertemu dengan John Stetson dalam suatu perjalanan, sang koboi tertarik akan topi Stetson dan memutuskan untuk membelinya. Koboi adalah sebutan yang diberikan kepada gembala di peternakan yang berada di Amerika Utara.  Secara tradisional mereka menggunakan kuda dan sering melakukan pekerjaan dipeternakan tersebut. Koboi Amerika pada akhir abad ke-19 menjadi figure yang melegenda, jenis lainnya disebut wrangler yang secara khusus memelihara kuda yang digunakan di peternakan.  Selain melakukan pekerjaan dipeternakan, beberapa koboi juga bekerja atau berpartisipasi di rodeo, suatu olahraga keterampilan bagi para koboi.  Istilah rodeo pertama kali digunakan dalam bahasa inggris pada sekitar tahun 1834 untuk merujuk kepada aktifitas mengumpulkan sapi.  Kini kata tersebut digunakan terutama untuk merujuk ke pameran public keterampilan koboi, biasanya dalam bentuk acara kompetitif.  Pertama kali rodeo diperkenalkan di Negara spanyol, kemudian terkenal sampai Meksiko, Amerika Serikat, Kanada, Amerika Selatan, Australia dan Selandia baru.   Dalam masyarakat sekarang tidak banyak pemahaman tentang kenyataan sehari-hari kehidupan di daerah pertanian. Dalam fiksi, koboi sering digambarkan dalam pertentangan dengan suku Indian, penduduk asli Amerika disbanding pekerjaannya sebagai gembala di peternakan.  Actor seperti John Wayne dianggap menunjukkan  koboi yang dijadikan idola, walaupun film barat jarang menunjukkan kemiripan dengan kehidupan koboi sebenarnya.  Koboi juga digambarkan sebagai citra ideal maskulin, seperti tergambar dalam Marlboro Man sampai Village People.  Kata koboi juga sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sembrono atau mengabaikan resiko potensial, tidak bertanggung jawab atau melakukan pekerjaan berbahaya dengan tidak berhati-hati.  Sebagai contoh majalah TIME mempunyai artikel sampul yang merujuk kebijakan luar negeri Presiden George W Bush sebagai “Diplomasi Koboi”. (https://id.Wikipedia.org/wiki/Koboi)
Tali lasso (serapan Bahasa Indonesia menjadi “laso”) adalah simpul tali penjerat berbentuk lingkaran (loop) dimana saat simpul dilemparkan ke arah target maka tali akan mengencang saat ditarik. Simpul laso sebenarnya bekerja mirip dengan tali pada tiang gantung dimana akan mengencang jika terjadi tarikan tali. Hanya saja lasso lebih dikenal sebagai alat bantu penangkap hewan atau yang lainnya dimana sering di gunakan para koboi.  Loop laso koboi sebenarnya memiliki banyak istilah seperti Reata maupun Riata yang keduanya berasal dari bahasa Spanyol dimana berarti menjerat. Sedangkan di daerah barat Amerika dikenal dengan istilah lasso. Akan tetapi sejarah laso di masa koboi lebih mengenalnya dengan sebutan tali biasa saja atau kadang disebut juga sebagai penalian (roping) yang berarti sistem simpul pada tali. Sedangkan laso maupun lasso lebih diartikan mereka sebagai pengguna yang belum berpengalaman dalam membuat simpul tadi. Seiring dengan berkembangnya waktu akhirnya penggunaan jerat tali tadi lebih dikenal dengan laso seperti saat ini.  Laso umumnya dibuat dari tali kaku kuat dimana simpul yang dibuat akan tetap terbuka saat laso dilemparkan. Pemilihan tali dengan kekakuan tertentu akan memudahkan koboi membuka loop laso diatas kuda dan melemparkannya ke arah ternak atau hewan buruan tanpa merusak simpul tersebut. Sebuah tali laso dengan kualitas baik biasanya diukur dari mudah tidaknya untuk dikontrol dalam meunggang kuda. Semakin mudah laso dikontrol maka kualitas talinya termasuk bagus, sedangkan semakin susah dikontrol maka bisa dikatakan kualitas dari tali yang digunakan kurang baik. Itulah sekelumit tentang koboi, tali laso dan peternak.


Selasa, 21 Februari 2017

Macam macam Ayam



Ayam merupakan salah satu jenis unggas bersayap (aves) spesies gallus gallus yang dapat diternak untuk diambil manfaatnya seperti daging, telur, bulu, suara dan sebagainya. Ayam yang kita kenal saat ini adalah jenis ayam peliharaan (Gallus gallus domesticus) yaitu ayam hasil domestikasi  yang biasa dipelihara orang untuk keperluan hidup pemeliharanya. Dalam perkembangannya ayam peliharaan selanjutnya disingkat ayam saja. Ayam peliharaan merupakan keturunan langsung dari salah satu subspesies ayam hutan yang dikenal sebagai ayam hutan merah atau ayam bangkiwa (bankiva fowl). Hingga saat ini, kawin silang antar ras ayam telah menghasilkan ratusan galur unggul/murni (satu generasi keturunan dari suatu individu) dengan berbagai macam fungsi.
Ciri khas khusus yang membedakan ayam dengan jenis unggas lainnya adalah sistem Perkelaminannya yang diatur oleh sistem hormon. Apabila terjadi gangguan pada fungsi fisiologi tubuhnya, ayam betina dapat berganti kelamin menjadi jantan. Hal ini dikarenakan ayam dewasa masih memiliki ovotestis yang dorman dan sewaktu-waktu dapat aktif.

AYAM BERDASARKAN FUNGSINYA
Secara umum ternak adalah pembagian ternak yang didasarkan atas kemampuan ternak yang bersangkutan dalam hal memproduksi suatu hasil atau jasa. Hal serupa berlaku juga pada ayam, dimana ayam kemudian dikelompokkan dalam beberapa macam berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh ayam itu sendiri.
Dari beberapa persilangan bangsa ayam di dunia, kemudian dikembangkan menjadi beberapa jenis ayam komersil berdasarkan produktivitas dan fungsinya, yakni:



1.    Ayam Pedaging (Broiler) ; merupakan jenis ayam yang dipelihara untuk diambil dagingnya.



2.    Ayam Petelur (Layer) ; merupakan jenis ayam yang dipelihara untuk diambil telurnya. 




3.    Ayam  Dwi Guna (Dual Purpose) ; merupakan jenis ayam yang dipelihara untuk diambil daging dan telurnya.





4.    Ayam Hias / Timangan (Pet, Klangenan) ; merupakan jenis ayam yang dipelihara karena memiliki bentuk tubuh cantik, warna bulu yang indah ataupun suara yang bagus.



5.    Ayam Sabung / Aduan ; merupakan jenis ayam yang dipelihara untuk tujuan aduan atau permainan sabung.

  

BANGSA AYAM
Bangsa ayam adalah kelompok ayam yang merupakan bagian dari kelompok yang sama atau hampir sama, dimana sifat sifat tersebut dapat diturunkan kepada keturunannya.
Bangsa - bangsa ayam yang dikenal sekarang terdiri dari:

Ayam Bukan Ras (Buras / Lokal)
Ayam buras sebenarnya merupakan ayam kampung (ayam yang berkeliaran bebas disekitar pekarangan rumah; terdapat hampir diseluruh pelosok Indonesia).  Namun demikian, semenjak dilakukan program pengembangan, pemurnian, dan pemuliaan beberapa ayam lokal unggul, saat ini dikenal pula beberapa ras unggul ayam kampung. Untuk membedakannya kini dikenal istilah ayam Buras (Bukan Ras) bagi ayam kampung yang telah diseleksi dan dipelihara dengan perbaikan teknik budidaya / tidak sekadar diumbar dan dibiarkan mencari makan sendiri.
Ayam Buras mempunyai banyak varietas dan spesies, diantaranya adalah sebagai berikut:



1.    Ayam Bekisar ; merupakan jenis ayam hasil perkawinan antara ayam hutan jantan (Gallus varius) dan ayam kampung betina/ayam buras (Gallus domesticus). Ciri – ciri umum: warna bulunya hitam kehijauan dan mengkilap dengan plisir kuning emas serta memiliki suara yang bagus dan halus.





2.    Ayam Pelung : merupakan salah satu jenis ayam asli Indonesia, asal Cianjur, Jawa Barat, sekarang tersebar di seluruh Nusantara, dan bahkan mulai merambah dunia. Ciri – ciri umum: bulunya mengkilat indah dan memiliki keunggulan suara yang mengalun panjang dan merdu.






 3.    Ayam Kedu ; merupakan salah satu jenis ayam asli Indonesia. Ciri – ciri umum: kulit ada yang putih dan dan ada yang hitam dengan jengger besar warna merah atau hitam.





4.    Ayam Cemani ; Masih sedikit yang diketahui tentang bangsa ini. Cemani adalah nama sebuah desa di daerah Solo, Jawa Tengah. Ayam cemani ditemukan di Jawa Tengah, Jawa Timur, pulau Madura dan Sumatera. Hasil persilangan dan varian ayam cemani banyak ditemukan. Ayam Cemani, khususnya yang berwarna hitam legam dapat memiliki harga jual yang tinggi oleh karena beberapa orang percaya bahwa ayam tersebut memiliki kekuatan mistik. Ciri – ciri umum: paling penting dari ayam cemani ini adalah semuanya hitam: bulu hitam dengan kilau kehijauan, kaki dan kuku hitam, paruh dan lidah hitam, jengger dan pial hitam, daging dan tulangnya hitam dan  organ dan darahnya berwarna hitam.




5.    Ayam Nunukan ; Ayam nunukan disebut juga ayam Tawao. Ayam ini merupakan ayam lokal yang berkembang di Pulau Tarakan, Kalimantan Timur. Ciri – ciri umum: warna bulunya merah cerah atau merah kekuning-kuningan, bulu sayap dan ekor tidak berkembang sempurna. Sementara paruh dan kakinya berwarna kuning atau putih kekuning-kuningan dengan jengger dan pial berwarna merah cerah. Jenggernya berbentuk wilah dan bergerigi delapan.





6.    Ayam Sumatera ; merupakan ayam lokal dari Sumatera Barat. Penampilan perawakannya tegap, gagah ,tetapi ukuran tubuhnya kecil. Ayam Sumatra jantan berkepala kecil, tetapi tengkoraknya lebar. Pipinya penuh (padat), keningnya tebal, dan pialnya menggantung ke bawah. Paruh ayam Sumatera umumnya pendek dan kukuh berwarna hitam, dengan cuping kecil dan berwarna hitam. Ayam Sumatra memiliki jengger berbentuk wilah dan berwarna merah. Kulit muka juga berwarna merah atau hitam, ditumbuhi bulu halus yang jarang.





7.    Ayam Bangkok ; merupakan jenis ayam yang berasal dari Bangkok (Thailand) namun sejak dahulu sudah ada di Indonesia sehingga sifat dan karakteristiknya dikategorikan ayam buras.  Ciri – ciri umum: badan tinggi, ramping dan tegap, kepalanya oval seperti bauah pinang serta pandai bertarung dengan teknik tinggi.




Ayam Ras
Ayam ras merupakan jenis ayam unggul yang induk atau nenek moyangnya merupakan ayam impor yang telah mengalami perbaikan genetik melalui proses persilangan dan seleksi dengan tujuan produksi sebagai penghasil daging maupun telur.
Menurut buku The American Standart of Perfection  bangsa unggas khususnya ayam dikelompokkan dalam empat kelas yaitu kelas Asia, kelas Amerika, kelas Inggris dan kelas Mediterania.

Berdasarkan buku standar, terdapat 11 kelas ayam, namun ada 4 kelas yang dianggap penting untuk dipelajari, yaitu : Kelas Inggris, Kelas Amerika, Kelas Mediterania, dan Kelas Asia

1.    Kelas Asia
Merupakan kelompok ayam yang dikembangkan di wilayah Asia. Karakteristik bentuk tubuh besar, bulu merapat tubuh, cuping berwarna merah, dan kerabang telur beragam, dari coklat kekuningan sampai putih. Ciri khas cakar berbulu, kulit berwarna putih sampai gelap dan merupakan tipe pedaging.
Contohnya:
1.      Brahman
2.      Langshams
3.      Cochins
2.    Kelas Amerika
Merupakan kelompok ayam yang dibentuk dan dikembangkan di Amerika Serikat dengan karakteristik bentuk tubuh sedang, cuping telinga berwarna merah, bulu mengembang, dan kulit berwarna putih. Ciri khas lain kulit telur berwarna coklat kekuningan, cakar tidak berbulu, dan  terkenal  sebagai  tipe dwiguna.
Contohnya:
1.      Rhode Island Red
2.      Jersey
3.      Plymouth Rock
4.      Hampshire
5.      Wyandotte
3.    Kelas Inggris
Merupakan sekelompok ayam yang dibentuk dan dikembangkan di Inggris dengan karakteristik bentuk tubuh besar, cuping berwarna merah, kulit putih, kerabang telur coklat kekuningan, dan bulu merapat ke tubuh. Merupakan tipe pedaging
Contohnya:
1.      Opington
2.      Suxes
3.      Cornish
4.      Austrolops
5.      Dorcking
Note : Ayam bangsa cornish terutama white cornish biasanya dijadikan pejantan untuk pembentukan ayam pedaging. Dikawinsilangkan dengan betina plymouth rock
4.    Kelas Mediterania
Merupakan kelompok ayam yang dikembangkan di sekitar Negara dan pulau di Laut Tengah seperti Spanyol dan Italia. Karakteristik bulu mengembang, cuping telinga berwarna putih, bentuk tubuh ramping, warna kulit putih, dan kerabang telur telur putih, dan merupakan tipe petelur.
Contoh:
1.      Leghorn
2.      Minorca
3.      Anconas

Ciri-ciri berdasarkan tipe

 a.  Tipe petelur
     Ayam yang nilai komoditas ekonominya di telur, dikarenakan menghasilkan jumlah telur yang banyak dalam kurun waktu tertentu. namun setelah masa afkirnya, dagingnya pun masih dapat untuk dijual namun tidak sebagus dengan tipe pedaging.
·         Sifat : nervous atau mudah terkejut
·         Karakteristik : tubuh ramping, bulu mengembang, cuping telinga berwarna putih, kerabang telur berwarna putih, produksi telur tinggi namun pertumbuhan lamban.
·         Jumlah telur : 200 butir/ekor/tahun
·         Efisiensi dalam penggunaan ransum untuk membentuk telur
·         Tidak memiliki sifat mengeram
·         Contoh kelas : Kelas Mediterania
 b.  Tipe pedaging
     Ayam yang nilai komoditasnya terdapat di daging, masa panennya cukup singkat yaitu 21 hari dikarenakan kememampuannya mengubah ransum menjadi bobot badan dengan pertumbuhan yang cepat.
·         Sifat : tenang
·         Karakteristik : tubuh besar, bulu merapat ketubuh, cuping telinga berwarna merah, kulit putih, produksi telur rendah namun pertumbuhan cepat.
·         Contoh kelas : kelas Inggris, kelas Asia
 c.  Tipe dwiguna
     Ayam yang dapat dimanfaatkan menjadi ayam petelur ataupun pedaging, namun hasilnya tidak semaksimal ayam tipe lain. Ketika dijadikan ayam petelur maka jumlah telur tidak akan sebanyak dengan kelas petelur, dan ketika dijadikan kelas pedaging konversi pakannya tidak semaksimal pedaging, sehingga bobotnya tidak sebesar pedaging namun cukup besar dari ayam petelur.
·         Sifat : tenang
·         Karakteristik : tubuh sedang, produksi telur sedang, pertumbuhan sedang, kulit telur berwarna cokelat.
·         Contoh kelas :  Kelas Amerika

DAFTAR PUSTAKA

Suprijatna, et al. 2008. ILMU DASAR TERNAK UNGGAS. Jakarta : Penebar Swadaya
Sumber : Dari berbagai sumber
 

Salam

Banner Header

iklan monggo

Banner Header

Anda tertarik

Banner Header

Sukses

Banner Header

Iklan disini

Banner Header

Silahkan hubungi

Banner Header

Berjamaah

Banner Header

Iklan jugo

Banner Header

085368986578

Banner Header
 
Blogger Templates